MPnews.Medan. - Ibrani 5:11-14 berbicara tentang orang percaya yang sudah cukup lama mengenal Tuhan, tetapi kehidupannya belum mengalami pertumbuhan yang seharusnya. Mereka masih membutuhkan “susu” dan belum mampu menerima “makanan keras”. Ini menjadi sebuah teguran bagi kita. Tuhan memang sangat baik kepada kita. Dia mengampuni, menolong, menjaga, memberkati, dan memberikan kesempatan demi kesempatan. Tetapi kebaikan Tuhan bukanlah supaya kita menjadi orang Kristen yang selalu ingin dilayani, selalu ingin ditolong, dan tidak mau bertumbuh.
Kebaikan Tuhan seharusnya membawa kita kepada kedewasaan rohani.
1. Kebaikan Tuhan Bukan Alasan untuk Tetap Menjadi Anak-Anak Rohani
Ibrani 5:12 berkata: “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah...” Masalah mereka bukan karena Tuhan tidak baik. Masalahnya adalah mereka tidak mengalami pertumbuhan sebagaimana seharusnya. Dalam kehidupan jasmani, seorang anak pasti bertumbuh. Tidak mungkin seseorang sudah bertahun-tahun hidup tetapi masih ingin diperlakukan seperti bayi. Demikian juga dalam kehidupan rohani. Kita tidak boleh terus-menerus berkata, “Saya harus selalu ditolong,” “Saya harus selalu didoakan,” atau “Saya hanya mau menerima berkat.” Tuhan memberikan kebaikan-Nya supaya kita semakin mengenal Dia dan semakin kuat dalam iman.
2. Kebaikan Tuhan Mengajar Kita Menjadi Dewasa
Ibrani 5:14 berkata: “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari yang jahat.” Kedewasaan rohani terlihat dari kemampuan kita membedakan mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan firman Tuhan. Orang yang dewasa secara rohani tidak mudah terbawa emosi, tidak mudah kecewa kepada Tuhan, dan tidak mudah meninggalkan iman ketika menghadapi masalah. Justru melalui berbagai pengalaman, Tuhan melatih kita. Kadang Tuhan memberikan pertolongan. Kadang Tuhan mengizinkan kita melewati proses. Kadang jawaban doa datang cepat, tetapi kadang kita harus menunggu. Semua itu dapat dipakai Tuhan untuk membentuk kita. Yakobus 1:22 berkata: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja...” Jadi, kedewasaan bukan hanya tentang berapa banyak firman yang kita dengar, tetapi berapa banyak firman yang kita lakukan.
3. Kebaikan Tuhan Harus Menghasilkan Buah dalam Kehidupan Kita
Semakin kita menyadari betapa baiknya Tuhan, seharusnya semakin besar keinginan kita untuk hidup bagi-Nya. Kita menerima kasih karunia, bukan untuk menjadi malas. Kita menerima pengampunan, bukan untuk terus hidup dalam dosa. Kita menerima pertolongan Tuhan, bukan untuk terus bergantung tanpa belajar menjadi kuat. 2 Petrus 3:18 berkata: “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” Tuhan ingin kita bertumbuh dalam iman, karakter, ketaatan, pelayanan, dan kasih kepada sesama. Seorang Kristen yang dewasa tidak hanya bertanya: “Apa yang Tuhan bisa berikan kepada saya?” Tetapi juga bertanya: “Apa yang bisa saya berikan kepada Tuhan?” Dulu mungkin kita selalu membutuhkan orang lain untuk menguatkan kita. Tetapi ketika kita bertumbuh, Tuhan ingin memakai kita untuk menguatkan orang lain. Dulu mungkin kita hanya ingin dilayani. Tetapi ketika kita dewasa, kita mulai belajar melayani. Dulu kita hanya menerima. Sekarang kita belajar memberi. Itulah salah satu tanda bahwa kita sedang bertumbuh.
Kesimpulan:
Kebaikan Tuhan jangan membuat kita semakin manja, tetapi semakin dewasa. Tuhan baik bukan supaya kita berhenti bertumbuh, tetapi supaya kita semakin mengenal Dia, semakin kuat dalam menghadapi proses, semakin taat kepada firman-Nya, dan semakin menjadi berkat bagi orang lain. Jangan hanya menikmati kebaikan Tuhan—bertumbuhlah melalui kebaikan Tuhan. Mari kita bertanya kepada diri sendiri: “Setelah sekian lama saya berjalan bersama Tuhan, apakah kehidupan saya sudah bertumbuh?” Kiranya ketika Tuhan melihat kehidupan kita, Dia tidak hanya melihat orang yang menerima banyak kebaikan-Nya, tetapi melihat anak-anak-Nya yang semakin dewasa, semakin kuat, semakin taat, dan semakin serupa dengan Kristus. Amin
Ev. Ariston Napitupulu M.Th
